Posts

Showing posts from July, 2013

salah satunya aku..

banyak orang yang menjadi munafik karena cinta.. salah satunya aku.. banyak orang yang menjadi terluka karena cinta.. salah satunya aku.. banyak orang  yang menjadi bahagia karena cinta .. salah satunya aku.. banyak yang menjadi bukan dirinya karena cinta.. salah satunya aku.. banyak yang menjadi pandai merangkai kata karena cinta.. salah satunya aku.. Sedangkan Kamu.. yang menjadikan Aku salah satunya, diantara banyak orang tersebut.. Iya, Kamu bukan aku..  (ini bukan puisi yang ditulis dihari puisi, -----' selamat hari puisi untuk kamu penikmat puisi)

pertemuan terakhir, di bulan July

Hanphone ku bergetar subuh dini hari, aku melihat dengan setengah sadar ke layar handphone itu, nama yang sangat ku kenal, tapi karena rasa kantuk yang begitu menyerangku maklum saja aku baru bisa terlelap pukul 4 subuh sehabis orang rumah sahur karena itu aku mengabaikannya. Pagi sekitaran pukul 8 aku bangun dan melihat handphoneku, benar itu darinya. Ada beberapa miscall dan sebuah sms. “kalau masih boleh. Aku mau telfon. Penting. Maaf ganggu”. Aku sontak kanget, ku fikir tadi subuh aku bermimpi mendapat telvon darinya ternyata itu bukan mimpi. Firasatku sangat tidak enak, semacam ada rasa resah dan gelisah yang aku rasakan. Aku langsung meng-sms dia “ada apa? Kamu baik-baik saja kan?”. Dia baru menelvonku sekitar pukul 10 pagi saat aku di Gereja.  Setelah pulang gereja, aku baru mendengar bahwa dia kena musibah, semua barang-barang berharganya hilang kecuali TV, itupun karena Tvnya sedang di service. Ah ketika aku mendengar itu   aku jadi lemes membayangkan kond...

Aku ada karena Dia ada..

Aku tetap disini, dengan hati penuh luka, karena cinta yang tak seharusnya ada, dengan nama yang masih tercemar karena kisah memilukan ini, dengan rindu yang terlalu menumpuk, karena kenangan manis itu, dengan pipi yang sesekali basah, karena sakit yang tak kunjung sembuh, dengan mulut yang terlalu sering megucapkan nama karena nama itu sering terngiang di telingaku.. dengan tangan yang selalu terlipat untuk berdoa, karena aku masih mau menceritakannya kepada Tuhanku.. dengan cinta yang teramat menyakitkan, karena ketidakhadirannya disini, dengan ingatan yang terlalu kuat, karena hatiku terlalu lemah untuk merasakannya.. dengan kata yang tak pernah habis, karena cerita kami terlau panjang.. dengan aku dan kamu yang tak akan pernah bisa bersatu karena perbedaann yang tak pernah bisa menyatu, dengan rasa ikhlas yang begitu lapang, karena kita telah dipisahkan.. dengan sabar yang tak pernah lelah, karena membangun kembali sesuatu yang telah hancur berkali-kali...

Surat Tak Beralamat

Kepada : seseorang yang jauh disana.. Aku menulis surat ini dengan alamat surat yang tidak ku tahu dimana, aku hanya tahu alamatmu itu di Ibu Kota dan berawalan Ci, spesifiknya tidak ku tahu. Karena itu surat ini tidak jadi ku kirim karena tidak beralamat.   Sebenarnya sudah ingin ku hapus tapi ku rasa sayang, siapa tahu ada yang membacanya dan tahu alamat lengkapmu.  --------------------------------------------------------------

puisi paling perih

aku sanggup menulis larik-larik puisi paling perih malam ini. menulis, misalnya, malam runtuh dan bintang biru gemetar di jauh sana. udara malam berpusar dan bernyanyi di angkasa. aku sanggup menulis larik-larik puisi paling perih malam ini. aku mencintai dia, dan sesekali dia mencintai aku pula. dalam malam-malam seperti ini, mestinya kurengkuh dia di lenganku. mengecupnya, berulangkali, berulangkala, di bawah langit tanpa tepi. sesekali dia mencintai aku, dan aku mencintai dia pula. bagaimana mungkin aku mampu tak mencintai matanya yang dalam dan tenang aku sanggup menulis larik-larik puisi paling perih malam ini. di kepala dia tak lagi aku capai, di dada dia tak lagi aku gapai. malam yang begitu mencekam, bertambah kejam sebab dia tiada. dan puisi menetas di dada seperti airmata-embun menetes di rumputan. tak mengapa kalau cinta tak bisa di sini menahan dan menjaganya. malam runtuh dan dia tak bersama aku. begitulah. di jauh sana seseorang lirih menyanyi, di ja...

Tentangmu, tempat terindah dan dingin yang hebat

dini hari dalam keadaan dingin, aku belum terlelap, dan masih terjaga. Hari ini aku mengunjungi tempat-tempat yang terakhir ku kunjungi berdua denganmu. Sebenarnya aku sudah tidak ingin ke tempat – tempat itu lagi. Tapi apalah dayaku, aku harus mengunjungi tempat-tempat itu lagi dengan alasan yang sudah berbeda. damn! Semua ingatan tentangmu kembali menyerangku. Sial, sekuat itukah kamu?!!! Hampir disemua titik di kota ini, punya rekaman tersendiri   tentang aku dan kamu. dan sekarang aku mendatanginya dengan hati yang begitu melemhakanku. Setiap aku mengunjungi tempat yang dulu pernah ke tempat itu bersamamu, aku lebih banyak diam kemudian mengingat semuanya. Bukan rasa sakit tapi lebih ke arah rindu yang ku rasakan. Tapi aku harus memahami bahwa semakin waktu berjalan semakin banyak hal yang akan tertinggal dan untuk membawanya pulang cukup dengan mengingatnya dalam bentuk kenangan. Kenapa kita membuat kenangan yang begitu banyak? Apa kau sendiri sanggup melu...