Posts

Showing posts from 2017

Sehari menjadi Anker (Anak Kereta)

Image
Saya selalu salut dengan pekerja Ibu Kota. Mereka itu tangguh. Berangkat gelap pulang gelap, menembus waktu yang bergerak begitu cepat demi tuntutan hidup  untuk bekerja secara kompetitif agar tatap bisa  menyambung hidup- Dan hal ini sangat terasa di Stasiun Kereta api listrik Jabodetabek. ------ kerata api listrik a.k.a commuterline sumber : google Pagi itu saya berangkat pukul 06.15 menggunakan layanan gojek ke stasiun terdekat. Berangkat terburu-buru seperti kebanyakan pekerja Ibu Kota lainnya. Dan untuk waktu yang lama, saya melihat matahari terbit lagi, sinar pagi yang hangat itu menyentuh kulit saya lagi.  Beberapa bulan ini saya menjadi pekerja Ibu Kota (untungnya hanya beberapa bulan), namun untuk pertama kalinya menggunakan layanan Commuterline Jabodetabek untuk urusan pekerjaan. Penyebabnya karena jarak Kos - Kantor saya  hanya 6 KM, dan bukan jalur yang macet karena berada di pinggiran Kota Jakarta Barat.  Namun karena hari...

Dari Mimpi ke Mimpi lainnya.

Image
Salah satu mimpi saya yang menjadi nyata adalah bekerja di Jakarta. Bagi yang dekat dengan saya, pasti sudah tahu bagaimana Kota ini menjadi salah satu mimpi setelah sarjana. Namun banyak yang tidak sepemikiran dengan saya, menurut mereka Jakarta adalah kota neraka yang menyebabkan stres meningkat. Bahkan pacar saya yang sekarang sangat tidak ingin hidup di Jakarta hahaha. Namun mimpi itu tidak surut. Mimpi itu selalu ku bawah bahkan setelah sarjana,  disuru pulang oleh mama dan kakak saya untuk mencari kerja di kota kelahiran, mimpi itu terus ku hidupi. Dan atas izin Tuhan,  kini kaki ini berpijak di atasnya, udara yang penuh dengan polusi menjadi oksigen saya setiap hari. Ibu kota yang menjadi cacian warganya sendiri, aku datang.  Kota yang begitu megah ini memang memiliki segala hal yang dibutuhkan, dan bagi orang yang mengatakan Jakarta adalah kota dengan biaya hidup yang mahal rasanya mereka salah. Jakarta  menyediakan semuanya, tergantung kita mau hidu...

perpindahan hidup

Berpindah adalah bagian paling nyata yang ada hidup saya. Sehingga ketika sekarang saya berpindah lagi saya sudah sedikit terbiasa menghadapi hal-hal yang baru. Entah itu berpindah tempat tinggal, berpindah keadaan hari, sampai berpindah hatipun sudah saya rasakan. Awal tahun dimulai dengan perubahan besar tentang hidup. Akhirnya saya Memulai kehidupan kerja dan meninggalkan rumah lagi. Pergi merantau ke Ibu kota kemudian di lempar lagi di mana mayoritasnya menggunakan Bahasa Jawa. Awal datang semua baik-baik saja, pelan-pelan menyesuaikan semuanya, dimulai dari lingkungan baru, team kerja baru dan suasana yang benar-benar baru. Saya mencoba membiasakan diri dengan kehidupan orang kerja pada umumnya, pergi pagi, pulang sore, sampai di kos badan sudah lelah jadinya hanya memilih menghabiskan waktu di kos saja.  Awalnya sanggup bertahan dari semua efek perubahaan itu, saya masih sanggup mengikuti ritme dari semua perubahan yang nyata yang terjadi, namun di pertengahan jalan,...

doa yang terjawab

“Kamu tahu doa yang terjawab seperti apa?” jawabku pelan diujung telvon, “seperti apa?” jawabmu singkat. “kamu, kamu itu doa yang dijawab Tuhan untuk saya”  Saya pernah meminta sosok sepertimu, sosok yang mengenal Tuhanku, sosok yang mau menerima segala kurangku dan sosok yang sepemikiran denganku. Dan Tuhan mengirimkan Kamu diwaktu yang tepat. Setelah seseorang mematahkan hati saya berkali-kali lipat sampai saya enggan membuka hati lagi, kamu datang. Cara kita bertemupun seperti sudah diatur rapi oleh Sang Maha pembolak balik hati, pertemuan-pertemuan tak terduga tercipta. Kemudian begitu saja, kamu bermetamorfosa dalam kehidupanku, menjadi sesorang sangat ku syukuri kehadirannya.  Kamu yang membebaskankan ku menjadi diriku sendiri, melepaskan semua topeng yang selalu kukenakan, kamu yang bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali dengan orang sama, kamu yang membuatku meruntuhkan segala pemahaman ;  jika tanpa bertemu pun cinta itu bisa menumbuhkan dirinya, kamu y...

waktu yang sama

Baru sempat menulis ini, padahal sudah masuk akhir di penghujung bulan ke dua, tak apa, aku sengaja merekamnya dalam bentuk kata agar sewaktu-waktu jika aku lupa masih ada bukti bahwa bahwa hidup ternayata semakin membaik. 2015. Penghujung akhir tahun, tak ada keinginan untuk merayakan pergantian tahun dengan segala hingar bingar kebahagian. Hujan masih setia menemani waktu yang terus bergerak maju, ditambah bunyi petasan yang begitu riuh menyambut tahun yang akan segera berganti. Sedangkan di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, hujan kecil mengalir deras di pipi seorang wanita yang menjadi sangat lemah karena hal bernama cinta. Menyambut tahun baru yang sungguh suram, tanpa perayaan apapun, yang ku ingat hanya sebuah  doa yang ku panjatkan dalam hati yang penuh kepasrahan disertai tangis yang tak bersuara.  Dan sebuah keyakianan bahwa tahun 2015 akan penuh dengan kebahagian meskipun aku memulainya dengan segala lara dan duka. 2016. Tak pernah terfikr...

24 untuk Richard Vielby

Image
Waktu berlari begitu tergesa-gesa, tapi aku tidak akan pernah lupa bahwa aku mempunyai seorang sahabat yang hari ini berulang tahun. Seseorang yang selalu tertawa meski dihadapkan dengan kenyataan pahit, badannya yang tidak terlalu besar tapi sanggup membawa beban yang luar biasa beratnya, pria yang terkadang menjadi bijak tapi sering juga menjadi seseorang yang cukup brengsek. Lelaki yang cukup bisa dijadikan panutan perihal perlakuan dalam keluarganya, dan sahabat yang bisa ku cari kapan saja, sebahagia apapun diriku, selemah apapun batinku, dia selalu bisa ku andalkan. Dari semenjak aku menulis tulisan 2 tahun lalu di sini , hidup banyak berubah yah ble?, sudah banyak sekali puncak-puncak kita tapaki bersama, dari mulai kau menarikku sampai ke puncak Anjani, sampai aku bisa naik sendiri tanpa bantuan siapapun ke Puncak yang sama, dari kita berdua jomblo sampai kini kita menemukan pasangan "tepat" masing-masing, dari kita hanya mengobrol perihal “ke mana kita hari ini?” ...

3 hari tentang perjalanan yang panjang

Image
Bandara selalu menjadi saksi dari setiap pertemuan dan perpisahan, dan kali ini bandara menjadi saksi dari pertemuan kita kembali. Percayalah, setelah kau gagal mengantarku ke bandara waktu itu, aku berfikir tak akan ada lagi pertemuan selanjutnya, ternyata aku salah, kita bahkan bertemu dan menciptakan pertemuan yang luar biasa membekas dalam ingatanku. Hari pertama, Kami masih saja berdebat siapa yang akan menunggu di Bandara saat itu, aku atau dia, dari jadwal sebenarnya kami hanya selang 15 menit, dan aku yang akan sampai terdahulu di Bandara tempat kami mengawali perjalanan panjang itu. Nyatanya pesawat kami berdua delay, jadwal mundur dengan waktu yang tak pasti. Kami berdua yang masih dengan sisa-sisa lelah dari pekerjaan masih bisa saling menertawai apa yang akan terjadi setelah itu, namun firasat aku sudah mengatakan bahwa rencana yang kita susun sedemikian rapi akan berantakan,- dan benar itu terjadi. Dia berangkat terlebih dahulu, parahnya dia sudah sampai di tuj...