Posts

Showing posts from January, 2016

semestamu menjatuhkanku

semestamu datang saat ketakutan ini memporak-porandakan pikiranku, tenang, saat sekitarku tenang, tapi tidak denganku, aku benar-benar resah..  ketakutan mengejarku saat kau menjatuhkan semestaku kedalam ketenanganmu, ah ada apa ini? mengapa rasanya hangat. sehangat selimut di kamarku... tak ada daya untuk tak memperdulikannya,  kau trus mengganggu dengan ketenanganmu, di saat ketakutanku semakin menjadi, bahkan hampir membawaku jatuh ke dalam rasa takut itu. kau masih disitu.  jangan berlalu dari lamunanku. aku tak akan takut lagi. bahkan saat rasa takut itu hidup dalam diriku, persis saat semesta mempertemukan mata ini dengan duniamu.  pun aku akan siap, menerima semestaku yg akan berlalu seperti dulu , saat semua ku anggap telah mendekati kata sempurna. untuk tenangku yang mengelisahkan, berlalulah sekarang karena kau masih kuberi kesempatan.  january 2015

hujan bulan november

hujan bulan november seperti kabar baik yang selalu dinantikan, seperti kehidupan baru yang akan segera dilahirkan, pada bulir-bulir air yang jatuh perlahan terselip doa-doa dari  bumi yang gersang, dan kami yang kekeringan,  hujan bulan november, ditandai dengan rintik jatuh memecah tanah, terhempas memukul bumi,  menerbos cepat di udara,  di ikuti dengan hujan kecil yang jatuh membasahi pipi, karena sepenggal kisah telah hilang bersama daun-daun kering yang akan segera tersapu oleh hujan bulan november. 

senja di malam yang pekat

kamu tahu aku selalu menantimu dengan bersemangat, walaupun terkadang aku telat melihat rupamu yang begitu memukau, menyaksikan sisa biasmu saja aku bahagia, aku ingat sore itu, saat aku duduk di tepi pantai menantimu sambari sesekali tertampar angin, hingga langit berubah menjadi hitam pekat kau tak muncul, aku tak jera apalagi kecewa karena aku tahu kau muncul hanya pada waktu- waktu yang baik.. hingga pada suatu sore dilain hari, aku datang bukan untuk menunggumu tapi segerombalan anak datang menyeretku, untuk melihatmu. kau datang sedikit demi sedikit hingga membuat aku sakit, pelan-pelan aku mundur menepikan diri dari bayangmu yang terlalu menyilaukan. saat kau sudah berganti dengan gelap bercampur garam, aku semakin sakit bahkan sekarat bahkan mencoba menari dalam kegelapan, namun aku tahu kita sama-sama sakit, kau mengajakku untuk sembuh tapi aku menolak. biarkanlah sakit ini mendanging sehingga bercampur dengan tubuhku. agar kau tak lagi tau mana sakit yang kau bua...