Posts

berteman dengan lumpur di pulau sempu

Image
Kereta melaju dengan kecepatan normal. Pemadangan di luar sana, gersang. Hamparan sawah yang belum di panen dan sesekali melewati kehidupan manusia pinggir rel kereta.  buku, kopi, berpadu menemani perjalanan panjang ini Sudah 6 jam aku berada di kereta ekonomi menuju kota malang. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, di mulai dari perjalanan dari denpasar ke negara yang lumayan macet. Kamipun harus menempuh kemacetan luar biasa di pelabuhan gilimanuk karena orang-orang yang sekira kabur dari perayaan Nyepi di Bali. Dengan membayar Rp.8000 kita sudah bisa menyebrang ke palau Jawa. Tentu tanpa kendaraan. Sesampai di Pelabuhan Ketapang, berjalan sekitar 500m, kita sudah bisa bertemu dengan stasiun Banyuwangibaru.  Hujan gerimis menyambut kedatangan kami di kota malang. Dengan tujuan sebenarnya, pulau sempu yang masih sangat jauh.  Perjalanan dari kota malang ke pulau sempu, memakan waktu sekitar 2-3 jam menggunakan sepeda motor. Banyak opsi bi...

gelang warna-warni

Aku mengenal seorang laki-laki yang mencintai gelang. Ia memakai gelang setiap saat, tak mengenal ruang, tak tau tempat, tak ingat waktu. bahkan saat ia mandi pun saat ia tertidur. gelang warna-warni itu masih melingkar angkuh di tangannya. Aku tak pernah tahu alasan dia mencintai gelang karena apa, mungkin karena itu memperlihatkan identitasnya sebagai pejalan atau tangannya terlalu liar sehingga butuh pengikat? Laki-laki ini menumpuk banyak sekali rahasia di dalam tawanya, dan mengepal banyak sekali kisah di dalam lipatan tangannya.. Kamu tidak akan pernah melihat dia marah, kesabaran telah berbuah di dalam hatinya, bahkan tak akan habis terpanen beratus-ratus hari lamanya. Kalau kamu mengamati bahu kirinya yang turun, lalu ke salah satu jemarinya. Kamu akan melihat rokok yang hampir tidak pernah lepas dari tangannya. Gayanya yang selalu mencium aroma batang rokok sebelum mengubahnya menjadi asap adalah ciri khasnya. Terlalu peka bahkan hanya sekedar bau nakotin yang ...

sebentar lagi

Hay semestaku, Sebentar lagi jarak akan mengujii kita, Membuat kita menjadi tabah memanen rindu, Memaksa kita memberi makan kesabaran agar ia terus hidup. Hay semestaku, Sebentar lagi tak akan ada senja yang akan bersepadan, Tak ada kopi yang terteguk bersamaan, Tak ada langkah kaki yang saling beradu,  Hay semestaku, Jika nanti ada yang lebih menarik dari pada senjamu di langit sini, Masih bisa kah kau tetap mengabadikan senja untukku, Atau mungkin jika nanti ada cangkir-cangkir kosong yang akan menemanimu menembus dinginnya pagi, Masih ada kah suara mesra di ujung telvon menyapaku di setiap pagi saat aku menyeduh kopi pahit, kesukaanmu.. Hay semestaku, jika ada jaket hangat beraroma lain yang akan kau kenakan saat salju datang menusuk tubuh kecilmu, masihkah adakah pelukan yang terdengar melalui suara hangat di tengah cuaca dingin mengingil untukku, hay semestaku, sebentar lagi.. dunia akan berbalik, dunia akan berbeda, ...

semesta(mu)

semestamu datang saat ketakutan ini memporak-porandakan pikiranku, tenang, saat sekitarku tenang,  tapi tidak denganku, aku benar-benar resah.. ketakutan mengejarku saat kau menjatuhkan semestaku kedalam ketenanganmu,  ah ada apa ini? mengapa rasanya hangat. sehangat selimut di kamarku... tak ada daya untuk tak memperdulikannya, kau trus mengganggu dengan ketenanganmu,  di saat ketakutanku semakin menjadi,  bahkan hampir membawaku jatuh ke dalam rasa takut itu. kau masih disitu. jangan berlalu dari lamunanku.  aku tak akan takut lagi. bahkan saat rasa takut itu hidup dalam diriku, persis saat semesta mempertemukan mata ini dengan duniamu. pun aku akan siap, menerima semestaku yg akan berlalu seperti dulu ,  saat semua ku anggap telah mendekati kata sempurna. untuk tenangku yang mengelisahkan,  berlalulah sekarang karena kau masih kuberi kesempatan. puisi pertama yang tercipta saat semestamu datang kepadaku. ...