Posts

semestamu menjatuhkanku

semestamu datang saat ketakutan ini memporak-porandakan pikiranku, tenang, saat sekitarku tenang, tapi tidak denganku, aku benar-benar resah..  ketakutan mengejarku saat kau menjatuhkan semestaku kedalam ketenanganmu, ah ada apa ini? mengapa rasanya hangat. sehangat selimut di kamarku... tak ada daya untuk tak memperdulikannya,  kau trus mengganggu dengan ketenanganmu, di saat ketakutanku semakin menjadi, bahkan hampir membawaku jatuh ke dalam rasa takut itu. kau masih disitu.  jangan berlalu dari lamunanku. aku tak akan takut lagi. bahkan saat rasa takut itu hidup dalam diriku, persis saat semesta mempertemukan mata ini dengan duniamu.  pun aku akan siap, menerima semestaku yg akan berlalu seperti dulu , saat semua ku anggap telah mendekati kata sempurna. untuk tenangku yang mengelisahkan, berlalulah sekarang karena kau masih kuberi kesempatan.  january 2015

hujan bulan november

hujan bulan november seperti kabar baik yang selalu dinantikan, seperti kehidupan baru yang akan segera dilahirkan, pada bulir-bulir air yang jatuh perlahan terselip doa-doa dari  bumi yang gersang, dan kami yang kekeringan,  hujan bulan november, ditandai dengan rintik jatuh memecah tanah, terhempas memukul bumi,  menerbos cepat di udara,  di ikuti dengan hujan kecil yang jatuh membasahi pipi, karena sepenggal kisah telah hilang bersama daun-daun kering yang akan segera tersapu oleh hujan bulan november. 

senja di malam yang pekat

kamu tahu aku selalu menantimu dengan bersemangat, walaupun terkadang aku telat melihat rupamu yang begitu memukau, menyaksikan sisa biasmu saja aku bahagia, aku ingat sore itu, saat aku duduk di tepi pantai menantimu sambari sesekali tertampar angin, hingga langit berubah menjadi hitam pekat kau tak muncul, aku tak jera apalagi kecewa karena aku tahu kau muncul hanya pada waktu- waktu yang baik.. hingga pada suatu sore dilain hari, aku datang bukan untuk menunggumu tapi segerombalan anak datang menyeretku, untuk melihatmu. kau datang sedikit demi sedikit hingga membuat aku sakit, pelan-pelan aku mundur menepikan diri dari bayangmu yang terlalu menyilaukan. saat kau sudah berganti dengan gelap bercampur garam, aku semakin sakit bahkan sekarat bahkan mencoba menari dalam kegelapan, namun aku tahu kita sama-sama sakit, kau mengajakku untuk sembuh tapi aku menolak. biarkanlah sakit ini mendanging sehingga bercampur dengan tubuhku. agar kau tak lagi tau mana sakit yang kau bua...

seorang pria dan sekelumit kata

dhia….n ; awal tahun saat tetesan hujan memeluk bumi yang sudah hampir tenggelam dalam basahnya peluh, kau hadir,   kau datang tiba-tiba, kemudian begitu saja hidupku selalu penuh dengan namamu, malamku penuh dengan kerinduanku, siang paling cerahku ada pada hadir-hadirmu waktu terus berputar mengada-ada seolah mengejek kita dalam ketiadaan, kita pernah terjebak pada hari yang begitu membosankan, sehingga diam menjadi teman setia yang menggerogoti, atau melewati hari yang menakjubkan, menghabiskan detik dengan langkah ke kepingan surga yang dititipkan di bumi,   pun pernah punggung memunggui demi ego setinggi gunung,   kau yang namanya ku sebut dalam doa yang penuh dengan kegelisahan, karena selalu menebak-nebak apakah hari esok masih seperti ini atau malah sebaliknya, kau yang sedekat dengan detak jantungku, bahkan kau bisa mendengar itu dengan jelas,   dan, kau yang berjarak sangat jauh, sejauh-jauhnya laut dan langit, bahkan sekedar melihatmu saj...

perjalanan pribadi bernama "Sarjana Hukum"

Image
Masa SMA itu memang indah, tapi masa Kuliah adalah masa-masa yang tak akan terlupakan. Tempatmu belajar akan banyak hal, mengenal orang-orang hebat, jahat dan baik semuanya terkumpul menjadi satu.  4 tahun saya berproses di masa kuliah dengan sangat baik, setidaknya menurut saya pribadi. Dimulai dari tahun pertama dan kedua terlewatkan dengan sibuk berorganisasi, mengurus masalah kampus, acara kampus sampai waktuku lebih banyak tersita di Student Center dari pada di Kos. Tahun ke tiga dan ke empat ku habiskan berkelana ke sana ke mari walaupun 2 tahun berdinamika di BEM Univ dan LPM Akademika juga telah banyak membawaku ke tempat-tempat luar biasa.  Diantara semua tahun di bangku kuliah, tahun ke empat adalah hal yang cukup berat ku hadapi.  Persoalan tugas akhir yang tak kunjung berakhir membuatku stress. Terlebih aku lebih banyak mendapatkan waktu luang selama hampir setahun karena menunggu kabar dari dosen yang membuat saya semakin stress. Bukan karena apa...

Gunung Argopuro (II) : Gunung terlengkap sejauh kaki melangkah

Image
Cikasur-Cisentor 4,5 Jam Jalur ke Cisentor di sambut dengan tanjakan yang cukup terjal dan melelahkan, namun bukan lagi savanna cokelat yang akan kita lihat melainkan savana hitam. Sungguh, bumi membakar dirinya sendiri melalui mataharinya, tapi ajaibnya walaupun habis terbakar, jalur ke cisentor masih sangat jelas, dan yang tidak terbakar hanya lintasan jalur itu saja, semuanya benar-benar habis terbakar. Setelah melewati beberapa savana hitam, kita akan melipir ke tebing yang seperti habis longsor, melewati batang-batang pohon yang tumbang karena kebakaran, patahan ranting-ranting pohon, dan beberapa titik api yang masih cukup panas. Kemudian setelah itu kita akan turun lagi ke bawah lembah yang cukup curam,  perlahan suara gemercik air terdengar dan sebuah bangunan semacam shalter terlihat, akhirnya kami tiba di post ngecamp cisentor. Oh iya, sebelum kami berangkat, kabar bahwa argopuro terbakar memang dikonfirmasi bapak Sus bahwa itu betul, tapi kebakaran itu hanya di Cis...

Gunung Argopuro (I) : Java's longest track

Image
“ Tak perlu banyak orang untuk bisa mendaki gunung, siapa yang siap itulah yang akan berangkat.” Mungkin kalimat ini sangat pas dengan pendakian kami ke Gunung Argopuro. Kami hanya bertiga, saya, bang oci dan bang icad. Berbekal dengan sebuah tekad dan persiapan yang ala kadarnya, kami berangkat ke Probolinggo menggunakan bis Indonesia Abadi. Setelah sampai di terminal Ubung kami berbincang dengan supir bis jika tujuan kami sebenarnya adalah desa Besukih, Situbondo. Dan akhirnya kami diturunkan di Pasar Desa Besuki untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Baderan yang kurang lebih 45 menit lagi menggunakan ojek. Langit masih gelap ketika kami turun di simpang jalan desa, tapi aktifitas masyarakat di sana sudah berjalan normal, orang jalan berlalu lalang untuk melakukan aktifitas mereka, ada yang ke pasar, ada yang mengantar anaknya ke sekolah, ada juga tukang ojek yang sudah menunggu kami di depan Alfa Mart. Tukang ojek itu memberi kami harga Rp.50.000 sedangkan menurut infomasi ...